Auto Migrasi! 10 Negara Ini Bayar Warganya yang Berhubungan Intim

- 8 Maret 2022, 19:05 WIB
Ilustrasi berhubungan intim
Ilustrasi berhubungan intim /Twitter/

KABARMEGAPOLITAN.com - Di sejumlah negara, berhubungan intim ternyata bisa mendapatkan bayaran dari pemerintah setempat. Yang bener, gan?

Berhubungan intim lebih banyak memang telah didorong oleh sejumlah pemerintah di negara yang sedang mengalami krisis populasi serius.

Hubungan intim masih dipandang tabu untuk dibicarakan oleh sebagian besar orang di Indonesia. Bahkan, pembahasan soal seks sering kali dianggap cabul.

Namun, di beberapa negara ternyata pemerintahnya malah mendorong warga untuk lebih banyak melakukan hubungan intim dibanding biasanya.

Bahkan, negara-negara tersebut tidak hanya sekadar meminta warganya, tetapi juga memberikan imbalan bagi mereka yang lebih banyak berhubungan intim.

Sebagian besar memiliki alasan khusus, seperti karena terjadinya penurunan populasi, masalah kesuburan, hingga masalah psikologis dan mental.

Baca Juga: Kenalan dengan OMS Arena, Kandang FK Senica Klub Egy Maulana dan Witan Sulaeman

Berikut 10 negara di mana pemerintahnya menyediakan bayaran bagi warganya yang berhubungan intim lebih banyak, dilansir Pulse.ng pada Oktober 2017.

1. Rusia

Di Rusia, melakukan lebih banyak seks dianggap sesuatu yang harus dinikmati setiap pasangan, tak hanya untuk kesenangan tapi juga meningkatkan populasi.

Negara Vladimir Putin menghadapi masalah wanita tidak cukup menghasilkan bayi, jumlah pria muda terus berkurang, dan HIV/AIDS meningkat.

Hingga 12 September dinyatakan sebagai Hari Resmi Konsepsi sejak 2007. Pemerintah memberikan libur, dan setiap pasangan didorong berhubungan seks.

Menariknya, setiap wanita yang melahirkan bayi akan mendapat hadiah kulkas raksasa, dan anaknya diberi beasiswa penuh dari SD sampai universitas.

Baca Juga: The Simpson Telah Ramalkan Invasi Rusia ke Ukraina Pada Salah Satu Episode di Tahun 1998

2. Denmark

Denmark adalah salah satu negara dengan ekonomi sangat stabil, tapi memiliki tingkat kesuburan sangat rendah dengan 1,73 anak per pasangan.

Ini sangat buruk, sehingga pemerintah negara Nordik itu memberitahu warga untuk melakukan lebih banyak seks dan membesarkan anak demi negara.

Bahkan, Spies Rejser, sebuah perusahaan perjalanan di Denmark, akhirnya rela memberikan insentif yang cerdik untuk membujuk wanita agar hamil.

Rejser berjanji untuk menyediakan perlengkapan bayi selama tiga tahun kepada pasangan yang hamil dalam liburan yang dipesan melalui perusahaan itu.

Baca Juga: Sinopsis Film Constantine, Keanu Reeves Perankan Pria yang Bisa Melihat Setan dan Malaikat di Bumi

3. Spanyol

Sejak 2008, jumlah kelahiran di Spanyol turun 18 persen. Sedangkan jumlah pasangan tanpa anak naik hampir tiga kali lipat, jadi 4,4 juta pada 2015.

Angka kelahiran itu jadi salah satu yang terendah di negara maju. Hingga pemerintah Spanyol mendorong orang untuk sering berhubungan seks.

Bahkan, pada Januari 2017, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengangkat jabatan Menteri Seks yang untuk mengurus peningkatan angka kelahiran.

Edelmira Barreira ditunjuk sebagai tsar seks negara itu, dan pekerjaan pertama adalah membuat pasangan di Spanyol menghasilkan lebih banyak bayi.

Baca Juga: Ikatan Cinta 8 Maret 2022: Nino Tidak Berhasil Dapat Hak Asuh Reyna Karena Aldebaran Kini Sudah Sadarkan Diri

4. Italia

Italia selalu memiliki masalah kesuburan dengan angka 1,43, jauh di bawah rata-rata Eropa 1,58. Masalah itu begitu meresahkan pemerintah.

Sehingga pemerintah mengambil sebuah kebijakan, yang mungkin dianggap kontroversial, dengan mendorong warga memiliki lebih banyak anak.

Sebuah laporan Bloomberg mengatakan Italia melakukan promosi bahwa waktu mungkin hampir habis, dan bahwa anak-anak tidak datang begitu saja.

Namun, sebagian besar pasangan tampak kurang menanggapi, meski pemerintah tidak mau kalah dalam upaya membuat warga lebih sering berhubungan seks.

Baca Juga: Begini Cara Nonton Pratama Arhan dan Tokyo Verdy di J2 League 2022 Liga Jepang, Gratis!

5. Rumania

Rumania mengalami tingkat pertumbuhan yang lambat selama lebih dari empat dekade sejak era 1970-an. Sejak saat itu, populasi mereka mulai berkurang.

Pemerintah yang khawatir memutuskan mengenakan pajak penghasilan 20 persen untuk pasangan tanpa anak, dan membuat ketentuan perceraian yang ketat.

Bahkan, banyak wanita yang dipaksa menjalani pemeriksaan ginekologi oleh unit komando demografis untuk memastikan kehamilan berjalan lancar.

Meski tingkat pertumbuhan masih rendah, tapi telah terjadi peningkatan angka kelahiran karena orang-orang sering masuk penjara dan melahirkan bayi.

Baca Juga: Demi Gabung Tokyo Verdy, Pratama Arhan Rela Lakukan Ini

6. India

Sebelum ledakan populasi menjadi 1,324 miliar pada 2016, ternyata India pernah mengalami kelangkaan anak-anak karena masalah kesuburan.

Komunitas pedesaan menyaksikan penurunan besar karena populasi menurun. Warga Parsis India menyusut dari 114.000 pada 1941 menjadi 61.000 pada 2001.

Masalah itu membuat India memutuskan untuk mengambil kebijakan agar warga lebih sering berhubungan seks. Mereka menyebar banyak iklan provokatif.

"Bertanggung jawab; jangan gunakan kondom malam ini" dan "Bukankah sudah waktunya kamu putus dengan ibumu?", demikian isi beberapa iklan tersebut.

Baca Juga: Anda Harus Berjuang! Komentar Saingan Pratama Arhan di Tokyo Verdy

7. Korea Selatan

Dengan tingkat kesuburan hanya 1,25 anak per wanita, Korea Selatan telah mengambil berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kehidupan keluarga.

Bahkan, pemerintah menawarkan insentif tunai kepada setiap pasangan yang bisa memiliki lebih dari satu anak, demi meningkatkan populasi.

Pemerintah juga menetapkan hari Rabu ketiga setiap bulan menjadi hari nasional yang diperingati sebagai Family Day atau Hari Keluarga.

Pada hari itu, kantor akan tutup dari jam tujuh malam. Setiap orang akan didorong untuk bergegas pulang dan bersantai dengan pasangannya.

Baca Juga: Ini Pesan Khusus dari Shin Tae yong untuk Pratama Arhan Jelang Gabung Tokyo Verdy

8. Jepang

Jepang memiliki salah satu tingkat kesuburan terendah di dunia, dan telah mengalami penurunan sejak 1975 karena banyak yang berhenti berhubungan seks.

Pada 2010, sekelompok mahasiswa peneliti dari Universitas Tsukuba membuat Yotaro, robot bayi yang memberikan gambaran peran orang tua kepada pasangan.

Laporan penelitian menunjukkan pria dan wanita mulai menganggap dirinya sebagai calon ayah dan ibu, dan merasa siap untuk mencoba hal yang nyata.

Pemerintah lalu menjadikannya kebijakan nasional, yang mendorong para warga berhubungan seks lebih banyak dengan imbalan fantastis yang ditawarkan.

Baca Juga: Mudah! Lapor SPT Tahunan Tak Perlu Lagi Ke Kantor Pajak

9. Hongkong

Salah satu negara Asia ini telah lama berjuang dengan masalah seks, di mana tingkat kesuburan mereka hanya sekitar 1,18 anak per wanita.

Hong Kong menghadapi tantangan yang sama dengan banyak negara industri yang tidak memiliki cukup orang muda dan populasi yang semakin berkurang.

Indeks yang mengkhawatirkan ini membuat pemerintah melakukan kampanye cerdik pada 2013, dengan memberi uang tunai untuk mendorong pasangan punya anak.

Setiap orang tua menerima 'bonus bayi' sekitar 4.400 Dolar Hong Kong untuk dua anak pertama, serta 5.900 Dolar Hong Kong untuk anak ketiga dan keempat.

Baca Juga: Heboh! Kritikan Lucky Heng soal Brand Lokal di Paris Fashion Week 2022: Masyarakat Sudah Dibodohi

10. Singapura

Meski memiliki ekonomi terbaik di dunia, Singapura juga memiliki tingkat kesuburan terendah di alam semesta dengan hanya 0,81 anak per wanita.

Akhirnya pemerintah membuat rencana dan mengadakan Malam Nasional pertama pada 9 Agustus 2012, untuk mendorong pasangan melakukan lebih banyak seks.

Pada acara yang disponsori Mentos itu, patriotisme setiap pasangan dibiarkan meledak dengan cara sering berhubungan intim dan membuat lebih banyak bayi.

Setiap tahun, pemerintah menghabiskan sekitar 1,6 miliar Dolar Singapura untuk program-program agar orang-orang melakukan lebih banyak seks.

Baca Juga: Ingin Mengikuti Program Kartu Prakerja Gelombang 24? Perhatikan Syarat dan Langkah-langkah Berikut Ini

Itulah 10 negara yang akan memberikan bayaran kepada pasangan yang lebih sering melakukan hubungan intim demi meningkatkan populasi.***

Editor: Yuliansyah

Sumber: Pulse gh


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah